SINGKONKEJU

Sabtu, 13 Oktober 2012

TRADISI PENYIKSAAN DAN KEKERASAN KERAPAN SAPI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ketika kita mendengar kata Madura timbulah pertayaan besar dan banyak orang-orang bertanya-tanya seperti pakah Madura ? Madura memiliki kekayaan kesenian tradisional yang amat banyak, beragam dan amat bernilai. Dalam menghadapi dunia global yang membawa pengaruh materalisme dan pragmatisme, kehadiran kesenian tradisional dalam hidup bermasyarakat di Madura sangat diperlukan, agar kita tidak terje bak pada moralitas asing yang bertentangan dengan moralitas lokal ataujati din bangsa. Kita sebagai orang asli Madura harus mengenal budaya Madura yang masih hidup, bahkan yang akan dan telah punah. Pengenalan terhadap berbagai macam kebudayaan Madura tersebut akan diharapkan mampu menggugah rasa kebangsaan kita akan kesenian daerah.
Madura dikenal sebagai wilayah yang tandus namun kaya akan kebudayaan. Kekayaan budaya yang terdapat di Madura dibangun dari berbagai unsur budaya baik dari pengaruh animisme, Hin duisme dan Islam. Perkawinan dari ketiga unsur tersebut sangat dominant mewamai kebudayaan yang ada. Dalam perkembangannya berbagai kesenian yang bemafaskan religius, terutama benuansa Islami temyata lebih menonjol. Keanekaragaman dan berbagai bentuk seni budaya tradisional yang ada di Madura menunjukkan betapa tinggi budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Kekayaan seni tradisional yang berisi nilai-nilai adiluhur yang berlandaskan nilai religius Islami seharusnya dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda sebagai penerus warisan bangsa. Kesenian tradisional adalah aset kekayaan budaya lokal yang akan mampu melindungi gene rasi muda dari pengaruh negatif era globalisasi. Pengaruh budaya global yang demikian gencar melalui media elektronik dan media cetak menye babkan generasi muda kehilangan jati diri.
Dengan mengetahui kebudayaan lokal diharapkan generasi muda mampu menggali potensi kekayaaan seni tradisional sekaligus melestarikannya. Secara garis besar jenis-jenis kebudayaan tradisional Madura dapat dibagi dalam empat kelom pok dan dari masing-masing kelompok tersebut mempunyai tujuan maupun fungsi yang berbeda, adapun jenis-jenis kebudayaan tradisional tersebut adalah seni tari, seni musik, upacara ritual dan seni pertunjukan.
Semua tradisi yang dimiliki ini sampai sekarang masih tetap eksis walaupun tidak seeksis pada jaman pendahulunya. Seperti yang terdapat dalam seni pertunjukan salah satunya adalah “Kerapan Sapi”. Bagi masyarakat Madura, karapan sapi  bukan sekadar sebuah pesta rakyat  yang perayaannya digelar setiap  tahun. Karapan sapi juga bukan hanya  sebuah tradisi yang dilaksanakan  secara turun-temurun dari satu generasi  ke generasi berikutnya. Karapan  sapi adalah sebuah prestise kebanggaan  yang akan mengangkat martabat  di masyarakat. Kerapan sapi adalah kebudayaan asli Madura yang kemudian menjadi icon utama pulau Madura. Perlombaan memacu sapi atau Kerapan sapi pertama kali diperkenalkan pada abad ke 13 (1561 M) pada masa pemerintahan Pangeran Katandur di keraton Sumenep. Permainan dan perlombaan ini tidak jauh dari kaitannya dengan kegiatan sehari-hari para petani, dalam arti permainan ini memberikan motivasi kepada kewajiban petani terhadap sawah ladangnya dan disamping itu agar petani meningkatkan produksi ternak sapinya.
Kerapan sapi memang telah menjadi identitas, trade mark dan simbol keperkasaan dan kekayaan aset kebudayaan Madura, namun, perlombaan kerapan sapi kini tidak seperti dulu lagi dan telah disalahgunakan sehingga lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Masalahnya banyak di antara para pemain dan penonton yang melupakan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT, yakni mereka tidak lagi mendirikan shalat (Lupa Tuhan, ingat sapi)..
Disisi lain sapi yang dipersiapkan untuk kerapan juga medapatkan perlakuan istimewa dari sang pemilik, misalnya Tokang obu itu juga bertugas untuk memijat, menginjak dan memandikan sapi setiap hari. Tidak jarang sapi-sapi itu dimandikan sampai dua kali sehari. Pijat dan injak, katanya, dilakukan agar otot-otot sapi tidak kaku dan aliran darahnya lancar. Setiap hari sapi-sapi itu juga dikeluarkan dari kandang dijemur. Belum lagi jamu campuran butir telur dengan  parutan kunyit, jahe, temulawak, kunci, gula merah, dan minuman bersoda yang diberikan dua kali seminggu.
Namun segala kenikmatan itu harus dibayar sapi dengan siksaan selama berpacu. Sapi-sapi itu berpacu dalam kesakitan, dan pantatnya berdarah. Cairan merah itu meleleh akibat garukan paku sang joki yang ditancapkan pada gagang kayu seperti parut. Tidak hanya itu. Mata, pantat yang luka, dan sekitar lubang anus si sapi diolesi cuka, sambal, dan balsem. Selain paku yang ditancapkan pada  tongkat sepanjang sekitar 15 sentimeter itu, bagian dalam ekor sapi diikat dengan kayu yang juga berpaku. Saat berlari, ekor yang dipasangi kayu berpaku itu naik turun, dan menusuk kulit sekitar dubur sapi. Sapi-sapi itu terlihat meronta, mengentak-entakkan kaki dan mendengus berulang-ulang. Tidak heran jika setiap pasangan sapi karapan harus dipegang oleh banyak orang agar tidak kalap dan lari sembarangan.
Pada kondisi seperti itu, tidak jelas apakah setiap pasangan sapi karapan, berlari karena kekuatan ototnya atau karena ingin lepas dari rasa sakit. Bisa jadi, pasangan sapi akan diadu beberapa kali. Artinya, sapi-sapi tersebut akan mendapatkan perlakuan menyakitkan berulang-ulang. Selain itu, tidak sedikit dari penonton yang menjadikan perlombaan kerapan sapi sebagai arena pertaruhan judi. Maka pantaskah budaya ini terus dilestarikan lagi, jika begini jadinya..??
Hal inilah yang kemudian menjadi kontroversi dikalangan masyarakat terutama dikalangan para ulama Madura. Seperti yang telah disampaikan oleh tokoh ulama Madura KH. Munif Sayuti bahwa penyiksaan yang terjadi dalam tradisi kerapan sapi hukumnya haram dan perlu dihentikan. Sudah jelas dalam hokum islam segala bentuk penyiksaan apapun dan terhadap hewan sekalipun itu sangat penyimpang dari syari’at dan ajaran agama dan hukumnya haram.
Hal ini juga kemudian menjadi perdebatan dikalangan masyarakat Madura sendiri. Dan kalaupun kebudayaan ini harus tidak dilestarikan itu bukan perkara mudah karena kebudayaan ini telah mengakar dalam masyarakat Madura. Selain itu juga kerapan sapi merupakan icon utama pulau Madura dan mampu memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap APBD. Akan tetapi disisi lain dalam kerapan sapi banyak hal-hal negatif yang tidak seharusnya dilakukan sehingga mengurangi bahkan merusak esensi, citra, dan makna yang terkandung dalam seni pertunjukan kerapan sapi yang sebenarnya. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan kajian dalam konteks kajian kualitatif komunikasi.
 1.2 Rumusan Masalah
1.      Mengetahui sebab terjadinya kontroversi penyiksaan dalam tradisi kerapan sapi
2.      Tujuan dan makna dibalik penyiksaan dalam kerapan sapi
3.      Apakah kekerasan dalam penyiksaan sapi bisa dihentikan
1.3 Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui apa sebab terjadinya kontroversi penyiksaan dalam tradisi kerapan sapi
2.      Untuk mengetahui apa tujuan dan makna dibalik penyiksaan dalam kerapan sapi
3.      Untuk mengetahui apakah penyiksaan dalam kerapan sapi bisa dihentikan

 
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Kerangka Teori
Dalam penelitian ini teori yang dipakai adalah teori Roland Barthes. Roland Barthes adalah penerus pemikiran Ferdinand De Saussure. Dalam teori semiotika ini mengungkapkan ada apa dibalik tanda/sign objek. Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya.
Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “Order Of Signification”, mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure. Gagasan barthes yang dikenal dengan “ Order Of Signification “ seperti yang digambarkan dalam bagan dibawah ini :
Barthes juga melihat aspek lain dari penandaan yaitu “Mitos” yang menandai suatu masyarakat. “Mitos” menurut Barthes terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified, tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos.
Misalnya: Pohon beringin yang rindang dan lebat menimbulkan konotasi “keramat” karena dianggap sebagai hunian para makhluk halus. Konotasi “keramat” ini kemudian berkembang menjadi asumsi umum yang melekat pada simbol pohon beringin, sehingga pohon beringin yang keramat bukan lagi menjadi sebuah konotasi tapi berubah menjadi denotasi pada pemaknaan tingkat kedua. Pada tahap ini, “pohon beringin yang keramat” akhirnya dianggap sebagai sebuah Mitos.
Seperti halnya dengan yang terjadi dalam tradisi kerapan sapi. Kerapan sapi yang awalnya hanya sebuah pesta rakyat yang dilaksanakan setelah musim panen dan biasanya juga dilaksanakan setiap mau menjelang musim hujan. Hal inilah yang menimbulkan makna konotasi dalam kerapan sapi. Namun kemudian makna konotasi ini berkembang menjadi sebuah asumsi umum dalam masyarakat sehingga kemudian kerapan sapi yang semula hanya sebuah pagelaran pesta rakyat bukan lagi menjadi sebuah konotasi akan tetapi  berubah menjadi sebuah makna denotasi pada pemaknaan tingkatan kedua. Dalam tahap ini kerapan sapi tidak hanya dianggat sebagai sebuah bentuk pagelaran pesta rakyat akan tetapi berubah menjadi sebuah mitos yaitu “apabila sudah musin kerapan sapi maka akan segera turun hujan”
Permainan kerapan sapi jika dicermati secara mendalam mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai itu adalah: kerja keras, kerja sama, persaingan, ketertiban dan sportivitas.
Nilai kerja keras tercermin dalam proses pelatihan sapi, sehingga menjadi seekor sapi pacuan yang mengagumkan (kuat dan tangkas). Untuk menjadikan seekor sapi seperti itu tentunya diperlukan kesabaran, ketekunan dan kerja keras. Tanpa itu mustahil seekor sapi aduan dapat menunjukkan kehebatannya di arena kerapan sapi.
Nilai kerja sama tercermin dalam proses permainan itu sendiri. Permainan kerapan sapi, sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, adalah suatu kegiatan yang melibatkan berbagai pihak. Pihak-pihak itu satu dengan lainnya saling membutuhkan. Untuk itu, diperlukan kerja sama sesuai dengan kedudukan dan peranan masing-masing. Tanpa itu mustahil permainan kerapan sapi dapat terselenggara dengan baik.
Nilai persaingan tercermin dalam arena kerapan sapi. Persaingan menurut Koentjaraningrat (2003: 187) adalah usaha-usaha yang bertujuan untuk melebihi usaha orang lain dalam masyarakat. Dalam konteks ini para peserta permainan kerapan sapi berusaha sedemikian rupa agar sapi aduannya dapat berlari cepat dan mengalahkan sapi pacuan lawan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, masing-masing berusaha agar sapinya dapat melakukan hal itu sebaik-baiknya. Jadi, antarpeserta bersaing dalam hal ini.
Nilai ketertiban tercermin dalam proses permainan kerapan sapi itu sendiri. Permainan apa saja, termasuk kerapan sapi, ketertiban selalu diperlukan. Ketertiban ini tidak hanya ditunjukkan oleh para peserta, tetapi juga penonton yang mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat. Dengan sabar para peserta menunggu giliran sapi-sapi pacuannya untuk diperlagakan. Sementara, penonton juga mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Mereka tidak membuat keonaran atau perbuatan-perbuatan yang pada gilirannya dapat mengganggu atau menggagalkan jalannya permainan.
Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.
Selain penanda dan petanda yang diulas diatas, ada juga penanda dan petanda yang dapat dilihat langsung dari fisik kerapan sapi itu sendiri, yaitu dilihat dari bentuk kokot sapi (kaki sapi) yang dibuat agak runcing dari sapi-sapi yang lain, pangonong (alat yang mengapit sapi), kleles (tempat joki), dan “empa’tanduk sapasang”(empat tanduk satu pasang).
Kokot dibuat agak runcing dari sapi biasa itu memiliki makna “namen panggun ka tana” (nanam pasti ke tanah). Karena masyarakat Madura mayoritas adalah petani yang memiliki etos kerja yang sangat besar. Dan setiap tanaman itu pasti ditanam ketanah.
Pangonong adalah alat yang mengapit sapi, terbuat dari bambu dan ada juga yang terbuat dari kayu ukir. Alat ini dipasang agar sapi bisa berlari bersama. Hal ini menandakan bahwa orang Madura juga memiliki nilai-nilai religius yang sangat tinggi. Dan juga mencerminkan iman dan islam dimana dua komponen tersebut juga harus berjalan bersama.
Kleles adalah alat tempat joki berpijak/berdiri dan mengendalikan sapi. Alat ini terbuat dari bambu untuk sapi kerap.  Hal ini memiliki arti bahwa setiap orang  harus memiliki pegangan dan pijakan dalam melangkah dan melakukan setiap perbuatan. Pegangan dan pijakan orang Madura adalah Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Empa’tanduk sapasang memiliki arti setiap orang Madura harus memiliki tanduk (keahlian) dalam bidang apa pun. Karena orang Madura terkenal memiliki semangat kerja yang sangat tinggi dan semangat itu harus didukung dengan kemampuan.
Itulah makna-makna yang dilahirkan dari penada-penanda yang ada dalam tradisi kerapan sapi Madura.
BAB III
METODOLOGI
3.1. Paradigma Penelitian
Penelitian dengan pendekatan fenomenologis berusaha untuk memahami makna dari berbagai peristiwa dan interaksi manusia didalam situasinya yang khusus. Penelitian dengan cara ini dimulai dengan sikap diam dan terbuka tanpa prasangka. Artinya peneliti tidak menganggap dirinya mengetahui makna dari berbgai hal yang terjadi dan ada pada orang-orang yang sedang dipelajarinya (Sutopo, 2002:25)
Paradigma yamg di gunakan adalah Paradigma Konstruktivisme ini Memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung dan rinci terhadap pelaku sosial dalam setting keseharian yang alamiah, agar mampu memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara atau mengelola dunia sosial mereka.
3.2 Unit Analisis
Dalam pelaksanaan penelitian akan digunakan komunikator, pesan dan media sebagai unit analisisnya.
3.3 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode observasi deskriptif analisis. (Peneliti melakukan observasi dan menganalisa data sesuai dengan keadaan).
b.      Observasi dilakukan berdasarkan pada pedoman observasi
c.       Pedoman observasi disusun sebagai berikut :
-              Mengumpulkan data dengan mencari semua data yang berkaitan dengan objek penelitian (kerapan sapi)
-          Melakukan identifikasi terhadap visualisasi objek yang ada.
-              Mendeskripsikan makna-makna dan tujuan dari visualisasi dari objek penelitian.
3.4. Populasi dan Sampel
Dalam penelitian ini peneliti mengambil populasi pada suku Madura, budaya madura dan tradisi Madura
Sampel yang di ambil adalah tradisi kerapan sapi yang cenderung terjadi kekerasan pada sapi yang di jadikan objek kerapan.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara
dengan wawancara merupaka suatu interaksi terhadap pemilik sapi yang mau di jadikan kerapan. interaktif (percakapan), dan melalui pertanyaan dan jawaban yang terbuka.walaupun pada awalnya peneliti sudah mempersiapkan daftar pertanyaan yang telah dibuat, wawancara mengalir sesuai dengan respon atau jawaban responden. Yang terpenting adalah dapat menggali semua data yang dicari. (Creswell dalam Engkus Kuswarno)
b. Observasi
Pencarian data pada literatur yang ada hubungannya dengan judul dan materi sebagai bahan penulisan.
3.4  Teknik Analisa Data
Data yang sudah didapatkan dianalisis dengan system analisis semiotika. Sebagaimana telah diungkapkan bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang tanda atau system tanda dimana tanda terebut dapat berupa indeks, ikon, atau symbol. Tanda-tanda tersebut bertujuan untuk mengkomunikasikan pesan-pesan tertentu yang dibuat oleh komunikator kepada komunikan. Di dalam pertunjukan kerapan sapi tanda-tanda tersebut hanya mempunyai kualitas visual saja.
Pendekatan hubungan yang terjadi antara penanda (komunikator) dengan petanda (komunikan) dapat terjadi melalui dua arti/makna yaitu :
a.       Makna Denotative
Makna yang muncul dari sebuah gambar/bentuk sesuai dengan asli bentuk/gambar tersebut.
b.      Makna Konotatif
Makna yang muncul dari sebuah gambar/bentuk bila gambar atau bentuk tersebut dilihat dari sedut pandang yang berbeda.
Dalam menganalisa objek kita dapat memfokuskan perhatian pada seatiap penanda yang ada dalan objek tersebut baik itu dari penanda yang sifatnya diam atau kegiatan visualisasi dari sapi dan orang mengiringi sebagai sebuah elemen tanda atau signame, yaitu sebuah tanda dasar yang tidak dapat diturunkan lagi. Penanda inilah yang kemudian akan banyak memberikan rangsangan (stimulus) dan menjadi fokus penelitian baik yang realis maupun dekoratif yang dibuat untuk mewakili bentuk-bentuk tertentu pula. Dalam bentuk ikon ini pesan, maksud, dan tujuan dapat berarti secara luas dan dapat bersifat konotatif, tergantung dari karakter dan kemampuan audiens dalam menerjemahkan kede-kode ikon dan gambar yang ditampilkan. Hal ini berbeda jika disamping gambar/bentuk dan ikon yang dimunculkan terdapaat teks yang mengandung pesan linguistic untuk mendukung gambar atau visualisasi objek.
Daftar Pustaka
Effendy, Onong Uchjana. Ilmu, Teori dan Filisafat Komunikasi. Cet. Ke-3. Citra Aditya Bakti: Bandung. 2003
Wiyata, Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura, Yogyakarta: LKiS, 2002
Komunikasi Virtual Vs Komunikasi Klasik. Refinasari.blogspot.com 
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/17/07092068/pantat.dipaku.mata.dan.dubur.diolesi.balsam 
http://www.youtube.com/watch?v=PVKcySwXD9U&feature=related 
Read more >>

PERSONALITY BUILDING Perkembangan Kepribadian Motivasi Belajar-Softskill Anak dalam Film Denias & Semesta Mendukung

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG 
Motivasi adalah suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut (Wlodkowski:1985). Berdasarkan rumusan tersebut motif merupakan faktor dinamis, penyebab seseorang melakukan perbuatan. Suatu perbuatan dapat ditimbulkan oleh sesuatu motif. Namun juga bisa disebabkan oleh beberapa motif. Dalam belajar, motivasi punya peranan yang penting. Dalam membicarakan macam-macam motivasi belajar, ada dua macam sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dari dalam pribadi seseorang yang biasa disebut ”motivasi intrinsik” dan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang yang biasa disebut ”motivasi ekstrinsik”. Setiap anak harus memiliki motivasi belajar agar dapat tercapainya sesuatu atau hasil sesuai yang diharapkan.
Tidak diragukan lagi bahwa dorongan belajar mempunyai peranan besar dalam menumbukan semangat pada siswa untuk belajar. Karena seorang siswa meski memiliki semangat yang tinggi dan keinginan yang kuat, pasti akan tetap ditiup oleh angin kemalasan, tertimpa keengganan dan kelalaian. Maka tunas semangat ini harus dipelihara secara terus menerus.
Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar, lemahkanya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya mutu akan menjadi rendah.
Oleh karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus. Motivasi yang diberikan dapat meliputi penjelasan tentang keutamaan ilmu dan keutamaan mencari ilmu, bila siswa mengetahui betapa besarnya keutamaan sebuah ilmu dam betapa besarnya ganjaran bagi orang yang menuntut ilmu, maka siswa akan merasa harus untuk menuntut ilmu.
Selain itu, bagaimana seorang guru mampu membuat siswanya merasa membutuhkan ilmu, bila seseorang merasa membutuhkan ilmu maka tanpa disuruhpun siswa akan mencari ilmu itu sendiri, sehingga semangat siswa untuk menuntut ilmu sangat tinggi dan hal ini akan sangat memudahkan proses belajar.
Seperti dalam Film saat ini sudah menjadi salah satu media yang cukup membantu masyarakat untuk mengenal budaya, realitas, atau kejadian di suatu daerah. Film sudah menjalani peran sebagai media pembelajaran bagi masyarakat. Film Denias Senandung di Atas Awan merupakan salah satu film yang mengangkat kehidupan masyarakat di Papua, baik dari segi budaya ataupun pendidikan. Penelitian ini membahas menegenai bagaimana sebuah film dapat merepresentasikan pesan atau makna pendidikan. Bahwa pada kenyataanya pendidikan di Papua terdapat kesenjangan antara daerah pedalaman dan daerah perkotaan. Pendidikan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan sumber daya manusia di daerah pedalaman Papua dan taraf hidup masyarakat Indonesia.
Sedangkan dalam film semesta mendukung, di katakan seorang anak yang sangat mencintai Fisika. Meskipun mengalami kesulitan ekonomi tidak memadamkan kecintaannya pada dunia sains. Walau tinggal di sebuah dusun di Pamekasan, Madura yang jauh dari gemerlap kota dan fasilitas belajar yang memadai, Arief tetap menekuni Fisika.
Dibalik pesan kuatnya sebagai penyemangat bagi anak kurang mampu untuk giat menempuh pendidikan demi cita-cita, seMESTA menduKUNG juga hadir laiknya sebagai film dengan kritik sosial. Padang garam di Madura menjadi titik tolak dari kritik tersebut. Sebagian besar penduduk Indonesia tahu betapa terkenalnya Madura sebagai pemasok garam terbesar di negeri ini. Namun banyak yang berubah saat ini disana. Situasi yang tak menentu membuat sebagian besar diantara penggarap ladang garam memutuskan banting setir sebagai petani. Yang membuat miris dan sekaligus menjadi cara kita untuk memotret kondisi sosial terkini di Madura adalah bahwa tak mudah mengubah mata pencaharian seperti para penggarap ladang garam disana. Ini kita perlihatkan kepada masyarakat yang dirajut dalam sebuah cerita yang bisa menggugah simpati sekaligus memberi inspirasi bagi anak-anak jaman sekarang.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Motivasi apa yang akan di angkat dalam kedua film tersebut?

C.     METODOLOGI
Dalam mengumpulkan data, kami menggunakan metode pengambilan data secara sekunder, yaitu pengambilan data secara tidak langsung melalui informasi yang sudah ada seperti internet.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PERKEMBANGAN
Sebelum membahas tentang perkembanga, apa yang Anda fikirkan tentang maksud dari perkembangan tersebut. Sering kita mendengar istilah bahwa perkembangan dan pertumbuhan diartikan sama. Tetapi apakah pemikiran tersebut benar. Sebelum kita menarik kesimpulan tentang hal tersebut, mari kita pahami tentang pengertian perkembangan dan pertumbuhan menurut para ahli.
Perkembangan merupakan pola perkembangan individu yang berawal pada konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat dan bersifat involusi ( Santrok Yussen. 1992). Dengan demikian perkembangan berlangsung dari proses terbentuknya individu dari proses bertemunya sperma dengan sel telur dan berlangsung sampai ahir hayat yang bersifaf timbulnya adanya perubahan dalam diri individu.
Perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman dan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif ( E.B. Harlock ). Dimaksudkan bahwa perkembangan merupakan proses perubahan individu yang terjadi dari kematangan (kemampuan seseorang sesuai usia normal) dan pengalaman yang merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan sekitar yang menyebabkan perubahan kualitatif dan kuantitatif ( dapat diukur) yang menyebabkan perubahan pada diri individu tersebut.
Para ahli mengartikan perkembangan itu bermacam-macam, namun demikian pendapat para ahli tersebut semuannya mengakui bahwa perkembangan itu adalah suatu perubahan, perubahan kearah yang lebih maju, lebih dewasa. Secara teknis, perubahan tersebut biasanyamelalui proses, oleh karena itu dapatlah dikatakan secara garis besar para ahli sependapat  bahwa perkembangan itu adalah suatu proses.

B.     KEPRIBADIAN

Istilah personality berasal dari kata latin “persona” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain.

Menurut Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik. Sedangkan personality menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendiriran, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.

Allport juga mendefinisikan personality sebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang timbul dari efektivitas sebagai total pola-pola perilaku actual atau potensi dari individu yang mendatangkan stimulus dari orang sekitar, dan sulit untuk dipahami, yang di pengaruhi oleh faktor eksternal dan internal dari individu dimana kedua faktir tersebut juga saling mengadakan interaksi.

 

C.     MOTIVASI
Motivasi berasal dari bahasa Latin, movere yang berarti bergerak atau bahasa Inggrisnya to move. Motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). Motif tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dengan faktor lain, baik faktor eksternal, maupun faktor internal. Hal-hal yang mempengaruhi motif disebut motivasi.
Jadi motivasi adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kea rah tujuan (Walgito, 2004: 220). Sedang menurut Plotnik (2005: 328), motivasi mengacu pada berbagai factor fisiologi dan psikologi yang menyebabkan seseorang melakukan aktivitas dengan cara yang spesifik pada waktu tertentu.
Motivasi adalah suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut (Wlodkowski:1985).
Tiga aspek motivasi menurut Walgito, yaitu: 1. Keadaan yang mendorong dan kesiapan bergerak dalam diri organism yang timbul karena kebutuhan jasmani, keadaan lingkungan, keadaan mental (berpikiri dan ingatan). 2. Perilaku yang timbul dan terarah karena keadaan tersebut. 3. Sasaran atau tujuan yang dikejar oleh perilaku tersebut.
Ciri motivasi menurut Plotnik, yaitu: 1. Anda terdorong berbuat atau melaksanakan suatu kegiatan. 2. Anda langsung mengarahkan energi anda, untuk mencapai suatu tujuan tertentu. 3. Anda mempunyai intensitas perasaan-perasaan yang berbeda tentang pencapaian tujuan itu.

D.    BELAJAR
Belajar adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja yang dapat menimbulkan tingkah laku (baik actual/nyata maupun potensil/tidak tampak) dimana perubahan yang dihasilkan tersebut bersifat positif dan berlaku dalam waktu yang relatif lama.
Dibawah ini pengertian belajar menurut para ahli:
Cronbach, Lindgren, Crow & Crow Belajar adalah perubahan tingkah laku yang terjadi karena pengalaman.
Masrun, Sri Mulyani Belajar adalah proses perubahan lahir dan batin dimana perubahan yang terjadi bersifat positif dan relative permanen.
Morgan Belajar adalah segala perubahan perilaku yang relative permanent yang muncul sebagai akibat dari latuhan dan pengalaman.
Ciri kegiatan belajar 1. Belajar merupakan suatu aktivitas yang menghasilkan perubahan tingkah Laku, baik secara actual maupun potensial, baik maupun buruk.  2. Perubahan yang terjadi bersifat positif dan berlaku dalam waktu yang relatif lama. 3. Perubahan tersebut terjadi karena adanya usaha (termasuk didalamnya latihan dan pengalaman). Perubahan karena efek perkembangan dan kematangan tidak termasuk dalam proses belajar.

Faktor yang mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar
  • INTERNAL
Faktor yang berasal dari diri individu (sebagai input), meliputi: a. Fisiologis, meliputi kondisi jasmani, fungsi alat indera, saraf sentral, dan sebagainya. b. Psikologis, meliputi minat, motivasi, emosi, inteligensi, bakat, dsb.
  • EKSTERNAL
Faktor diluar diri individu yang mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar, meliputi: 1. Sosial/Lingkungan, yaitu pola asuh keluarga, dukungan dari lingkungan disekitar individu, kehadiran seseorang secara langsung ataupun representasinya. Misalnya, bila teringat orangtua maka motivasi untuk menyelesaikan skripsi meningkat. 2. Instrumental, meliputi alat perlengkapan belajar, ruang belajar, ventilasi, penerangan, cuaca, materi yang diberikan, peraturan-peraturan yang mengikat dalam proses belajar.
E.     MOTIVASI BELAJAR
Dalam membahas motivasi belajar, ada dua macam sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dari dalam pribadi seseorang yang biasa disebut ”motivasi intrinsik” dan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang yang biasa disebut ”motivasi ekstrinsik”.
  • Motivasi Intrinsik
Menurut Syaiful Bahri (2002:115) motivasi intrinsik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak memerlukan rangsangan dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sejalan dengan pendapat diatas, dalam artikelnya Siti Sumarni (2005) menyebutkan bahwa motivasi intrinsik adalah motivasi yang muncul dari dalam diri seseorang. Sedangkan Sobry Sutikno (2007) mengartikan motivasi intrinsik sebagai motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan, motivasi intrinsik adalah motivasi yang muncul dari dalam diri seseorang tanpa memerlukan rangsangan dari luar.

·         Motivasi Ekstrinsik

Menurut A.M. Sardiman (2005:90) motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sedangkan Rosjidan, et al (2001:51) menganggap motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang tujuan-tujuannya terletak diluar pengetahuan, yakni tidak terkandung didalam perbuatan itu sendiri. Sobry Sutikno berpendapat bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian seseorang mau melakukan sesuatu. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan, motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dan berfungsi karena adanya pengaruh dari luar.
Cara belajar
Cara belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Pada dasarnya, cara Belajar terdiri dari tiga tipe,yaitu;
Visual: anak yang mempunyai cara belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.
Auditori: anak yang mempunyai cara belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakana. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.
Kinestetik: anak yang mempunyai cara belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat.
Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar
1). Perubahan terjadi secara sadar, Ini berarti bahwa seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, kecakapanya bertambah, kebiasaanya bertambah. Jadi perubahan tingkah laku yang terjadi karena mabuk atau dalam keadaan tidak sadar, tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar , karena orang yang bersangkutan tidak menyadari akan perubahan itu.
2). Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional, Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan , tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya. Misalnya jika seorang anak belajar menulis maka ia akan mengalami perubahan dari tidak dapat menulis menjadi dapat menulis. Perubahan ini berlangsung terus hingga kecakapan menulisnya menjadi lebih baik dan sempurna.
3). Perubahan dalam belajar bersifat Positif dan aktif, Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh Sesutu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri. Misalnya perubahan tingkah laku karena proses kematangan yang terjadi dengan sendirinya karena dorongan dari dalam , tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar.
4). Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. Misalnya kecakapan seorang anak dalam memainkan piano setelah belajar, tidak akan hilang begitu saja melainkan akan terus dimiliki bahkan akan semakin berkembang kalau terus dipergunakan atau dilatih.
5). Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Misalnya seseorang yang belajar mengetik sebelumnya sudah menetapkan apa yang mungkin dapat dicapai dengan belajar mengetik, atau tingkat kecakapan mana yang akan dicapainya.
6). Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku, Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seorang belajar Sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya.

F.      FILM DENIAS & SEMESTA MENDUKUNG.
Ø  DENIS
Film Denias, Film ini bertutur tentang pentingnya menuntut ilmu bagi setiap orang. Tak peduli dibatasi oleh hal suku, agama, ras, kelas sosial, budaya, ataupun aspek geografis, setiap orang berhak untuk menuntut ilmu di institusi sekolah. Hak ini menjadi tuntutan penting yang belum bisa dipenuhi negara kita. Film ini seperti mengingatkan pemerintah dan kita terhadap betapa pentingnya pendidikan bagi kemajuan bangsa. Kritik sosial pada film ini disampaikan lewat balutan kisah drama khas kehidupan anak-anak yang halus, lugu, dan ceria. Sikap dan pesan yang disampaikan pun tak terlihat menyalahkan atau menuding pihak-pihak tertentu yang dianggap bertanggung jawab atas rendahnya kualitas pendidikan di negara ini. Sebaliknya, malah kita yang diingatkan tentang tanggung jawab bersama memajukan kualitas pendidikan negara ini.
Dengan berbagai pesan itu yang terkandung di dalam skenario, menjadikan film ini paling kuat secara tematik di antara nominator lain. Persoalan yang diangkat juga kontekstual dengan persoalan pendidikan nasional negara ini. Siapapun yang menonton film ini pasti akan tersentuh dengan realita yang ditampilkan pembuat film. Cerita film ini sangat berhasil dalam penyampaian pesan dan membangun kedekatan emosi dengan penonton.
Tak hanya temanya yang sangat kuat, film ini juga sangat indah dari sudut visual. Keindahan alam Papua dieksplorasi habis-habisan di sini. Sebuah bahasa visual yang mendukung jalan cerita secara keseluruhan. Kesendirian dan kemandirian Denias dalam usahanya untuk bersekolah terwakilkan pada visual alam Papua yang luas dan indah. Selain sinematografi yang bagus, film ini semakin hidup dengan menampilkan adat istiadat setempat. Sebuah nilai minus kecil pada skenarionya muncul pada hubungan antara Denias dan ibu guru Sam yang kurang dieksplor lebih dalam. Secara keseluruhan, mungkin film ini yang paling pantas masuk nominasi dan semoga paling kuat untuk merebut gelar film terbaik.
Di dalam film “Denias” Senandung di Atas Awan bisa dilihat dari budaya yang ditampilkan dalam film tersebut. Gaya bicara dan tingkah laku Denias menceritakan dengan jelas kehidupannya dan kebudayaannya. Jadi kita dapat sekaligus belajar dari film tersebut tentang kebudayaannya dan kehidupan di pedalaman Papua. Kekuatan dalam film tersebut juga terletak pada keasliannya kehidupan suku pedalaman Papua. Cerita tersebut di gambarkan secara jelas kehidupan di suku pedalamannya dari kebudayaannya. Contoh dalam tersebut di gambarkan anak yang sudah beranjak dewasa diwajibkan memakai koteka dan setelah upacara pemakaian koteka tersebut dipisahkan tempat untuk laki-laki dan perempuan, dan juga upacara berkabung setelah meninggalnya istri diadakan upacara pemotongan jari dan mandi Lumpur. Dan penjabaran kehidupan dipedalaman papua yang sangat keras, penuh dengan kepolosan orang orang desa Wamena karena kurangnya pendidikan. Sangat bisa kita lihat dalam film ini. Kita bisa menjadikan film ini sebagai hiburan sekaligus pembelajaran.
Film yang bercerita tentang perjuangan seorang anak Papua yang bernama Denias yang dengan segala macam cara mencoba untuk meraih pendidikan yang layak. Cerita ini di ambil dari seorang pribumi asli yang bernama Janias. Film ini tidak hanya sekedar sebuah film tetapi juga bisa menjadi inspirasi untuk mengambil keputusan apa yang terbaik buat hidup. Dan memberikan semangat juang yang tinggi untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Dan memberikan semangat untuk meperjuangkan apa yang kita inginkan. Film DENIAS “Senandung di Atas Awan” adalah sebuah film yang harus ditonton oleh mereka yang mengaku dengan dunia pendidikan di Indonesia. Sebuah film yang dapat membuka pandangan kita tentang betapa pendidikan yang layak di negeri kita ini masih sangat mahal, masih sangat rumit dan masih banyak terjadi diskriminasi-diskriminasi yang tidak masuk akal. Sehingga menyebabkan banyaknya anak-anak yang mempunyai keinginan untuk sekolah yang besar putus di tengah jalan karena adanya latar belakang keluarga.
Denias merupakan tokoh utama yang mempunyai motivasi belajarnya yang sangat kuat, yang akan sadar dengan pentingnya pendidikan serta perubahan akan dirinya yang sadar dengan pendidikan, Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional, Perubahan dalam belajar bersifat Positif dan aktif, Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku. Itulah yang terjadi pada kisah Denias yang merupakan punya kegigihan untuk belajar meskipun dia anak pedalam yang jauh akan dunia fasilitas yang memadahi.

Ø  SEMESTA MENDUKUNG

Diceritakan dalam film ini menceritakan tentang Arif, seorang anak yang sangat mencintai Fisika. Meskipun mengalami kesulitan ekonomi tidak memadamkan kecintaannya pada dunia sains. Walau tinggal di sebuah dusun di Pamekasan, Madura yang jauh dari gemerlap kota dan fasilitas belajar yang memadai, Arief tetap menekuni Fisika. Beruntung ia mempunyai guru seperti Ibu Tari, seorang perempuan Minang yang karena dedikasinya terhadap dunia pendidikan rela “terdampar” di Madura untuk menemukan intan-intan pecinta ilmu sains yang selalu memotivasi Arif untuk belajar lebih giat. Diluar kecerdasannya, Arif tetaplah seorang anak yang merindukan sang ibu yang lama pergi. Sang ibu yang akhirnya harus dicarinya hingga ke Singapura.
Dibalik pesan kuatnya sebagai penyemangat bagi anak kurang mampu untuk giat menempuh pendidikan demi cita-cita, seMESTA menduKUNG (MESTAKUNG) juga hadir sebagai film dengan kritik sosial. Padang garam di Madura menjadi titik tolak dari kritik tersebut. Sebagian besar penduduk Indonesia tahu betapa terkenalnya Madura sebagai pemasok garam terbesar di negeri ini. Namun banyak yang berubah saat ini disana. Situasi yang tak menentu membuat sebagian besar diantara penggarap ladang garam memutuskan banting setir sebagai petani. “Yang membuat miris dan sekaligus menjadi cara kita untuk memotret kondisi sosial terkini di Madura adalah bahwa tak mudah mengubah mata pencaharian seperti para penggarap ladang garam disana. Ini kita perlihatkan kepada masyarakat yang dirajut dalam sebuah cerita yang mudah-mudahan bisa menggugah simpati sekaligus memberi inspirasi anak bangsa kita semua bahsanya betapa pentingnya pendidikan di usia dini. Dan semesta mendukung juga bergerak dari padang garam ke rimba beton di belantara Jakarta dan Singapura. Betapa kontrasnya kehidupan dan betapa kuasa semesta bisa mengubah semuanya dalam waktu yang tak lama. Maka Arif yang terbiasa dengan bau harum garam harus berhadapan dengan rimba beton.
Kehidupan modern berpadu dengan nuansa tradisional juga ditampilkan dalam film ini. Pertunjukan karapan sapi yang riuh dengan detil demi detil yang menarik juga dieksplorasi dan akan menjadi pemandangan menakjubkan sekaligus tambahan informasi bagi penonton yang sebelumnya bisa jadi asing. Nuansa drama dan komedi juga berbaur dengan baik. Pencarian Arif akan sang ibu berpotensi memancing haru berpadu dengan seekor sapi bernama Justin Bibir yang akan membuat penonton terbahak.
Karakter Arif yang tidak mudah menyerah untuk giat belajar yang kemudian sampai kesingapur, karena termotivasi untuk bertemu dengan Ibunya yang sudah lama menghilang. dari itulah motivasi belajarnya Arif yang terbentuk dengan adanya lingkungan belajra di sekolah dan dapat motivasi dari ibu gurunya.

BAB III
KESIMPULAN

Dalam pembahasan tentang motivasi belajar, bahwasanya tidak mudah membuat seseorang itu sadar akan pentingnya pendidikan dan bagai mana belajara dengan baik, selain itu juga memberikan perbandingan pandangan dengan apa yang telah didapat dilingkungan masyarakat.
Proses yang mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar ada dua, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Bila kebutuhan intrinsik dan ekstrinsik terpenuhi, proses dan hasil belajar bias dicapai sesuai dengan harapan. Cara belajar juga memiliki tiga tipe, visual, auditori, dan kinestik. Bila kita mengetahui cara belajar yang lebih kita gemari, kenyamanan dalam belajar mungkin akan didapat.
Dengan demikian Representasi pendidikan di Papua, yang di kisahkan lewat DENIAS “Senandung di Atas Awan”. Keunggulan film DENIAS “Senandung di Atas Awan” adalah dari tema yang diangkat adalah pendidikan. Ini memberikan nilai positif dari film tersebut, karena sangat sedikitnya film pendidikan yang di angkat dengan kenyataan sekarang yang maraknya film horror dan cinta yang di angkat menjadi tema. Film DENIAS ini bisa dijadikan contoh sebagai produser-produser lain agar tetap menjalankan nilai pendidikan dalam film mereka. Sekarang bagaimana caranya film pendidikan bisa dikemas dengan penyampaian yang sangat menarik dan tidak monoton. Dengan melalui film ini ingin mengungkap keadaan pendidikan di Indonesia sebenarnya.
Dimana dalam tokoh tersebut diflot sebagai anak yang giat belajar dan dari lingkungan yang sangat sederhana, tidak hanya mendapatkan motivasi dari seorang guru akan tetapi juga dari keluarganya yang mendapatkan motivasi belajar “yaitu pesan dari sang ibu”.
Sedangkan dalam Semesta Mendukung, film ini menceritakan tentang Arif, seorang anak yang sangat mencintai Fisika dan berasal dusun di Pamekasan, Madura. Jauh dari gemerlap kota dan fasilitas yang memadai sekaligus kesulitan ekonomi yang dialaminya, tidak memadamkan kecintaannya pada dunia sains khususnya Fisika.
Beruntung ia mempunyai guru seperti Ibu Tari, seorang perempuan Minang yang karena dedikasinya terhadap dunia pendidikan rela “terdampar” di Madura untuk menemukan intan-intan pecinta ilmu sains.
Di luar kecerdasannya, Arif tetaplah seorang anak yang merindukan sang ibu yang lama pergi. Sang ibu yang akhirnya harus dicarinya hingga ke Singapura.Dibalik pesan kuatnya sebagai penyemangat bagi anak kurang mampu untuk giat menempuh pendidikan demi cita-cita.
Karakter Arif yang tidak mudah menyerah untuk giat belajar yang kemudian sampai kesingapur, karena termotivasi untuk bertemu dengan Ibunya yang sudah lama menghilang. dari itulah motivasi belajarnya Arif yang terbentuk dengan adanya lingkungan belajra di sekolah dan dapat motivasi dari ibu gurunya.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.tribunnews.com/2011/06/02/resensi-film-semesta-mendukung.
http://setowicaksono8.wordpress.com/2010/11/07/makalah-motivasi-softskill/
http://www.unjabisnis.net/makalah-motivasi-belajar.html
http://motivasibelajar.wordpress.com/2008/05/15/post2/
Read more >>

” TEKNIK ANNOUNCER DAN JURNALIS PADA RADIO KARIMATA FM ”

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Saat ini media menjadi instrumen penting dalam setiap aspek kehidupan di republik. Kampanye, promosi, produk, opini sampai propaganda politik adalah konsumsi yang lazim di media. Adapun media di Indonesia adalah Televisi, surat kabar, Internet dan juga radio.
Perkembangan Teknologi Informasi yang sangat pesat, harus diiringi oleh peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).  Bangsa Indonesia saat ini yang berada pada kondisi “konsumen” dalam bidang teknologi, harus segera bangkit untuk mengubah kondisi yang ada. Meskipun demikian peningkatan skill Sumber Daya manusia harus terus diperhatikan.
Perlu kita sadari bahwa Sumber Daya Manusia, merupakan central point dalam rangka mewujudkan keberhasilan pembangunan di segala bidang Teknologi Informasi. Bagaimanapun canggihnya teknologi, atau sistem yang ada pada suatu organisasi, baik pemerintah (birokrat) maupun swasta, akhirnya tetap tergantung pada Sumber Daya Manusia sebagai unsur pelaksana.
Dalam menghadapi Abad 21 yang ditandai oleh liberalisasi perdagangan diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang benar-benar siap menghadapi persaingan global yang makin terbuka. Selaras dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional tentang relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan, maka proses pendidikan di perguruan tinggi harus memperhatikan lingkungan dan kebutuhan dunia kerja khususnya dunia usaha.
Dunia kerja pada masa mendatang secara selektif akan menjaring calon tenaga kerja yang benar-benar profesional pada bidangnya, karena dengan persaingan global akan makin terbuka lebar kesempatan bagi tenaga kerja asing untuk memasuki/menguasai dunia kerja di Indonesia. Oleh karena itu salah satu tantangan utama bagi lulusan perguruan tinggi adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum memasuki dunia kerja.
Salah satu upaya peningkatan SDM khususnya dalam pendidikan tinggi  karena itu adalah merupakan sarana penting bagi pengembangan diri dan kemampuan berwirausaha serta kemandirian bagi lulusannya. Ini  merupakan suatu bentuk pendidikan yang memadukan peningkatan soft skill & hard skill, proses belajar akademik dengan pengalaman kerja yang terencana, terbimbing dan mendapat insentif. 
Salah satu bentuk konkritnya dapat diterapkan melalui Kuliah Kerja Komunikasi (K3), kuliah ini merupakan terapan dari teori yang sudah diterima oleh mahasiswa ilmu komunikasi, dengan demikan saya memilih salah satu instansi di radio Karimata yang merupakan Radio terkemuka dan Pertama di Madura dibidang Informasi, Pendidikan, Hiburan, berdasarkan kultur dan Budaya masyarakat Madura. Yang biasa dikenal sesui dengan slogannya yaitu radio kebanggaan Madura.
Semua ini merupakan suatu alasan saya memilih instansi ini adalah saya melihat dan mengetahui sistem kinerja di radio dan keprefosionalannya, ini sangat bagus serta manajemen marketingnya  sangat bagus dan bisa diandalkan. Jika ada mahasiswa yang magang di instansi ini ada semacam bimbingan secara langsung selama satu minggu. Setelah menjalani bimbingan itu, baru mulai kepada prakteknya, bukan hanya teori saja yamg diberikan kepada mahasiswa melainkan juga praktek dan terjun langsung ke lapangan. Sehingga mahasiswa  benar – benar mendapatkan ilmu sekaligus pengetahuan disamping itu kita juga bisa membantu dan bekerja sama sesuai dengan bidang yang ditekuni. Selain ilmu yang didapat, kita juga mendapatkan pengalaman baru dalam menghadapi dunia kerja yang sebenarnya.
Mungkin semua teori yang di anut di semua chenel radio intinya sama, namun ada sesuatu halterkecil yang di terapkan oleh radio Karimata ini dan mungkin di anggap sepele, dengan salah satunyan ketika ada pengunjung setiap kariawan di wajibkan ramah itu yang pertama, dan yang kedua tata runag gedung dan kebersihan gedung tersebut sehingga penggunjung di yang datang terasa betah.

B. TUJUAN MAGANG
Melatih untuk dapat menerapkan teori yang didapatkan dalam kuliah sekaligus menganalisa kecenderungan stakeholders (user) terhadap kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Selain itu melatih agar mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja sesungguhnya.
Kuliah Kerja Komunikasi ini memungkinkan mahasiswa memperoleh kemampuan yang praktis dengan dihadapkan pada penerapan dunia kerja di luar kampus. Sehingga akan diperoleh calon tenaga kerja yang mandiri, profesional, dan siap memasuki dunia kerja.

C. MANFAAT MAGANG
Adapun manfaat dari Kuliah Kerja Komunikasi yaitu :
1. Memudahkan penerapan ilmu yang didapat selama masa kuliah berlangsung khususnya bagi ilmu komunikasi.
2.  Memberikan wawasan dan pengetahuan baru mengenai penerapan dalam menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya sesuai dengan bidang yang ditekuni.
3.      Sebagai acuan/referensi program Kuliah Kerja Komunikasi selanjutnya.

 
BAB II
LAPORAN HASIL MAGANG
A. PROFIL INSTANSI
PT. Radio Swara Karimata Permai di dirikan pada hari Rabu 14 September 1988 dengan maksud dan tujuan
  1. Mengadakan radio siaran untuk usaha usaha penerangan , pendidikan dan hiburan
  2. Radio siaran bersifat Komersial.
  3. Tidak mengadakan usaha usaha lainnya, kecuali yang tercantum dalam sub bab tersebut di atas.
Pendiri                                     : 1. Hasan Altuwy
                                                  2. Moehd. Ikrak Zainal Putra. BA
Nama Perusahaan                    : PT. Radio Suara Karimata
Akte Notaris                           : H. Abdul Wahib Zainal. SH Nomor 14 tanggal 14 -09-1988
Akte Perubahan                      : Mustofa SH Notaris Karawang Nomor 8 (22 Mei 1989)
Perubahan Nama                     : PT. Radio Swara Karimata Permai Pamekasan
Nama Radio                            : Karimata
Menteri kehakiman RI            : C2-6783- HT.01.01.Tahun 89 ( 28 Juli 89 )
NPWP                                     : 01.650.027.4.608.000

Akta Berita Acara Rapat Pemegang  saham PT Radio Swara Karimata Nomor 01 tanggal 09 November 2005 yang ditandatangani oleh R.Ahcmad Ramali SH Notaris Pamekasan Jl. Jingga No. 6, terjadi perubahan anggaran dasar dengan susunan pengurus :
  1. Direktur Utama           : Arief Syuhada
  2. Direktur                       : Bambang Soeryadhi
  3. Komisaris                    : Hasan Altuwy

Pada awal Tahun 2000, kami mengajukan permohon pindah frekuensi dari AM ke FM, hal ini dikarenakan :
  1. Kemajuan Teknologi di bidang elektronika khususnya perangkat siaran  Radio di era Globalisasi ini tidak dapat dipungkiri dan berdampak juga di daerah seperti juga di Kabupaten Pamekasan.
  2. Tingginya keinginan masyarakat Pamekasan (pendengar ) untuk dilayani dengan bagus dalam hal mendengarkan radio juga merupakan tantangan bagi kami sebagai pengelola Radio yang berada Kabupaten Pamekasan.

Dari latar belakang ini kami mengajukan permohonan pindah frekuensi dari AM ke FM dengan maksud Tujuan :
  1. Untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pendengar / public
  2. Untuk meningkatkan mutu siaran melalui manfaat kemajuan teknologi
Sebagai media jasa penyiaran peraih widya Kencana tingkat Pasar kecil se Indonesia pada tahun 1995-1996 merupakan tantangan yang harus dilaksanakan agar pendengar kami dapat terlayani dengan baik.

a.  MAKSUD DAN TUJUAN.
PT. Radio Swara Karimata Permai didirikan pada hari Rabu 14 September 1988 dengan maksud dan tujuan :
    1. Mengadakan radio siaran untuk usaha-usaha penerangan, pendidikan dan hiburan
    2. Radio Siaran bersifat Komersial
    3. Tidak mengadakan usaha lainya, kecuali yang tercantum dalam sub tersebut diatas.
Pada awal Tahun 2000, kami mengajukan permohonan pindah frekuensi dari AM ke FM hal ini dikarenakan :
  1. Kemajuan Teknologi di bidang elektronika khususnya perangkat siaran Radio di era Globalisasi ini tidak dapat di pungkiri dan berdampak juga di daerah seperti juga di kabupaten Pamekasan.
  2. Tingginya keinginan masyarakat Pamekasan ( Pendengar ) untuk dilayani dengan bagus dalam hal mendengarkan radio juga merupakan tantangan bagi kami sebagai pengelolaan Radio yang berada di Kabupaten Pameaksan.

Dari latar belakang ini kami mengajukan permohonan pindah frekuensi dari AM Ke FM dengan maksud dan Tujuan :
1.      Untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pendengar / publik.
2.      Untuk meningkatkan mutu siaran melalui manfaat kemajuan teknologi.

b. VISI dan MISI
        Visi Karimata
-          Radio terkemuka dan Pertama di Madura dibidang Informasi, Pendidikan, Hiburan berdasarkan kultur dan Budaya masyarakat Madura.
Misi Karimata
-    Radio Karimata Menyajikan program sesuai dengan kultur dan budaya  masyarakat Pamekasan.
-    Radio Karimata melayani kebutuhan masyarakat dibidang informasi, yang memberikan pencerahan.
-    Radio Karimata Meningkatkan profesionalisme dan kesejahteran karyawan..
-    Radio Karimata memberikan keuntungan bagi semua pihak sesuai peran masing - masing.

c. PROFIL RADIO KARIMATA
Nama Badan Hukum              : PT. RADIO SWARA KARIMATA PERMAI
Nama Stasiun Radio               : KARIMATA FM
CALL Station                         : KARIMATA FM
Frekuensi                                 : 103,3 MHz
Alamat Kantor                                    : Jl. Raya Panglegur No. 123 Pamekasan
Telpn / Fax                              : 0324 – 333222,333555,333999/ 0324 – 331432
Alamat Studio                         : Jl. Raya Panglegur No. 123 Pamekasan
Telpn / Fax                              : 0324 – 333222,333555,333999/ 0324 – 331432
E- Mail                                    : samsulkarimata@yahoo.co.id
Website                                   : www.karimatafm.com
Contact Person                        : Moh Syamsul Arifin HP : 08113444562
No. Anggota PRSSNI                        : 522- III / 1990
CALL SIGN                           : PM 6 BRG
Slogan Radio                          : Kebanggaan Madura

FORMAT SIARAN
a. Format Siaran Kata             : Musik Dan Informasi
b. Format Siaran Musik           : POP-DANGDUT-BARAT-DAERAH
Radius Jangkuan                     : +/- 100 Km
                                                   Sumenep – Pamekasan – Sampang – Sebagian  Bangkalan, Bias Pancaran Pasuruan – Probolinggo – Situbondo - Blitar  - Malang –
   Bondowoso.
Segmentasi Siaran                   : GENERAL

1.  Sasaran Pendengar Radio Karimata Fm:
 Berdasarkan Jenis kelamin
> General ( Perempuan & Laki Laki )
    Perempuan                                = 58 %
    Laki Laki                                   = 42 %
Berdasarkan Usia
> Usia : 13 - 18 Thn                      = 10 %
            19 - 29 Thn                        = 30 %
            30 - 45 Thn                        = 40 %
            46 >                                   = 10 %
2.  Berdasarkan Status Sosial
> Status Ekonomi Sosial               = D C B
- Atas                                         =   5 %
- Menengah atas                         = 10%
- Menengah                                = 30%
- Menengah Bawah                    = 35%
- Bawah                                      = 15%
- Tidak Specifik                         =   5%


B. AKTIFITAS MAGANG

   ” RADIO KARIMATA FM 103,3 MHz ”
 24 Januari 2011 - 24 Februari 2011

Hari pertama saya melaksanakan kuliah kerja komunikasi dengan singkatan K3, saya di perkenalkan oleh bpk.Moh Syamsul selaku General Manager di Radio KARIMATA FM mulai dari pimpinan hingga crew di tempat itu. Setelah masing-masing memperkenalkan diri, beliau menawarkan bidang kerja yang akan saya pelajari, yaitu pada pemberitaan, penyiaran, atau pada segala bidang. Pada kesempatan itu, saya memilih untuk mempelajari secara general pada radio KARIMATA FM. Setelah kesepakatan kami buat, sayapun langsung memulai proses magang pada keesokan harinya.
Minggu pertama terasa begitu biasa-biasa saja, sebab selama seminggu saya hanya di perkenalkan dengan ruangan-ruangan dan alat-alat editing, tata cara administrasi, dan  gatekeeper. Saya rasa hal itu kurang menarik karna tidak ada action yang saya lakukan misalnya berupa meliput berita ataupun membacakan berita, namun general manager mengtakan bahwa minggu pertama adalah awal-awal penguatan materi sebelum terjun kelapangan jadi saya memantapkan materi pembelajaran demi suksesnya proses magang untuk pembekalan kedepannya.
 Mingggu kedua, saya di bimbing oleh pak Hendra Zulkarnain dalam materi proses pembuatan berita yang di kenal dengan sebutan Analisis Jurnalis (tahap editing berita). Seperti halnya pembuatan berita menggunakan metode pyramida terbalik yang menspesifikasikan hal umum ke hal yang lebih khusus. Setelah pembekalan materi tersebut saya di suruh untuk mencari berita di koran dan menulisnya dalam bahasa sendiri. Demikian yang terjadi selama satu minggu.
Minggu selanjutnya, menginjak pada tahap marketing/ pemasaran/ penjadwalan iklan. Minggu ini kegiatan magang semakin berkesan dan menarik. Sebab saya dipimpin langsung oleh Bpk. Moh Syamsul Arifin selaku general Manager, dalam pengenalan tiga materi tersebut. Membuat saya semangat seba beliau ramah dan welcome saat membimbing saya. Adapun materi yang beliau sampaikan berupa tempat, dan services dari Radio KARIMATA FM.
Pada Minggu terahir magang, selama tiga hari saya memperoleh pembelajran program & siaran. Kemudian hari berikutnya saya memperoleh kesempatan untuk praktik membaca berita yang telah saya buat dan menyiarkannnya di ruangan khusus. Pada waktu senggang saya memperoleh materi tambahan dalam pembuatan drama yang akan di on air kan.
Demikian, kegiatan magang yang saya lakukan di RADIO KARIMATA FM, yang keseluruhan memiliki banyak manfaat bagi diri saya pribadi. Selain berupa keilmuan dan penerapannya saya juga bisa menjadikannya pengalaman dalam bidang jurnalistik.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan proses magang yang saya lakukan di Radio KARIMATA FM yang berlangsung selama 1 bulan, saya memperoleh sekian pengalaman dan keilmuan yang belum saya dapatkan sebelumnya. Tidak hanya itu, saya menjadi lebih paham tatacara menghadapi dunia kerja khususnya di bidang jurnalistik. Bagaimana seorang jurnalist bersikap dalam pemaparan beritanya, dan bagaimana seorang announcer menarik dalam penyampaina beritanya semua itu adalh ilmu baru yang saya peroleh dari kegiatan Kuliah Kerja Komunikasi. Kegiatan magang ini, tentunya berkaitan erat dengan mata kuliah yang saya tempuh di jurusan komunikasi.
Ketika mempelajari tentang informasi lewat radio, saya bisa membedakan dalam menyampaian informasi dari semua media massa. Seperti halnya dala menyampaikan informasi lewat radio menggunakan bahasa tutur jarna di radio lebih fokus pada audio sedangkan pada informasi televisi lebih fokus pada bahasa mata sebab lebih mengutamakan pada visual, Dan berita pada surat kabar lebih pada penggunaan bahasa tulis yang di gunakan.
Di bidang marketing biaya operasinya diperoleh dari pendapatan iklan yang masuk. Di radio karimata, tidak ada iklan yang tidak cocok, karena di sini iklannya bersifat general, tetapi tinggal menyesuaikan di program acara apa iklan itu diputar
Dalam Kuliah Kerja Komunikasi.saya mempelajari, Analisis jurnalis (editing berita) berupa pencarian, dan rewrite berita yang di dapat dari reporter.
Dalam marketing, mempelajari cara memperoleh biaya operasional yang di dapatkan dari iklan-iklan yang masuk dan pengelolaanya bagi perusahaan.
Dan yang terahir adalah, program dan siaran yang mempelajari tatacara penyiaran berita dan tahap-tahap penulisan berita.

B.                 Saran
Dengan selesainya laporan hasil K3 (Kuliah Kerja Komunikasi) ini untuk melengkapi program mata Kuliah Kerja Komunikasi, memberikan sara-saran posotif agar K3 terlaksana dengan baik dan efektif. Kepada semua mahasiswa yang akan melaksanakan kegiatan magang hendaknya lebih memahami dan mengetahui intansi yang akan di jadikan tempat K3 sesuai dengan konsentrasi yang di pilih.
Semua pekerjaan akan terasa menarik ketika kita berusaha untuk memahami dan menikamati setiap apa yang kita lakukan dengan melihat hasil yang kita peroleh dari proses pembelajaran sebelumnya.



DAFTAR PUSTAKA

Mufid,muhammad,M.Si.2005.komunikasi DanRegulasi Penyiaran.Jakarta:Kencana
               Prenada Media Group.
Brandt,Torben dan Sasono,Eric.2006.Jurnalisme Radio.Denmark:UNESCO
               Hasil Seminar.



LEMBAR PENGESAHAN



” TEKNIK ANNOUNCER DALAM MENYAMPAIKAN INFORMASI DI RADIO KARIMATA FM ”
                                                                         




Penyusun :
ACH. SUBAIRI
080531100017












                                                                        Pamekasan, 31 Desember 2009
Pembimbing Lapangan                                Dosen pembimbing K3


                             Syamsul Arifin                                         Nikmah Suryandari, S.sos,Msi
                                                                                     NIP : 19730415 200312 2001
Read more >>

Popular Posts